Thursday, November 12, 2009
ora pro nobis
sesudah pesta pora baca
menulis sesuatu yang membuat gurat dahi bertambah satu
merenungi imagined community dan tersesat
di istilah-istilah yang terlalu seksi sampai ngeri
deadline terjemahan. oh dewa.
demi penerbangan ke hawa dingin tanah moyang
aku perempuan biasa
yang merindui kamar tidurnya semasa sma
mengunjungi makam sepi
atau mater boni consilii
dan asik berbisik pada cahaya lilin sore hari
sedang terkenang
dulu mereka datang seperti kereta plastik
melaju tanpa jemu di rel kecil
dalam ruang tengah kanak-kanak kita
di hadapan mata-mata belia yang membelalak
tak bosan-bosannya
sampai baterai soak
dan suara tangis meretakkan telinga
kata-kata benar-benar sedang berwisata
meninggalkan kita dalam warna-warna tua
sembari disuapi komedi sedih
tentang negeri yang tergerogoti dirinya sendiri
kita tak bisa menembus cermin masa terbaik kita
dan berdiam terus disana
sayang sekali
sayang sekali
Wednesday, November 11, 2009
seekor burung dan pepohonan

kita sudah selesai
tak perlu berbicara tentang
yang tak lagi berguna
kau seekor burung
kami pepohonan
kadangkala angin adalah si baik
membuai kita senang untuk terus bersama
kadangkala hujan adalah pembawa pesan
bahwa kita memang tak bisa basah beriringan
daun-daun kami melakukan yang terbaik
menampung matahari
menghijau diri
memberi gizi pada bunga-bunga cantik
hinggal lahir buah-buah kecil manis
kami bersyukur kami diberi kekuatan
untuk melepaskan
untuk memaafkan
kau boleh saja singgah disini
selalu kami terima dengan senang hati
sedang lagu-lagu sesalmu
kami titipkan pada ranting-ranting kering
yang melapuk tua dan berguguran
agar yang kita kenang
adalah segala yang menyenangkan
dan pemandangan yang menenangkan
Tuesday, November 10, 2009
tak lelap harap

kita memandang segala terbentang
juga memajang bahagia yang kita bawa
untuk kita gantung di dinding rumah jiwa
membuatnya menjadi abadi di sana
di rumahnya yang sederhana
terlalu banyak air mata yang jatuh
dari rebusan sendu mendidih
di waktu-waktu angin sembilu
mengapikan perih semua yang lalu
dan dengan kuasa pasrah
kita tak bisa meminta enyah
jadi biar sajalah
karena akan terbenam juga
bersama senja lupa
: aku cuma ingin menggandeng tanganmu
terus melenggang di jalan raya kehidupan itu
Tuesday, October 27, 2009
rosari hari
tak pernah durhaka langit pada
pucuk ilalang yang setia mendongak
menegak doa meminta berkah
kesuburan cinta setia dari mata hujannya
seperti halnya jiwaku yang pernah karam
di lautan tak bertuan, diseret ombak
pulang ke pantai perenungan
memasir kesabaran putih terhampar bersih
di kaki nyiur mimpi yang tak pernah berhenti
menari bersama angin yang kadang menghempasnya
keras sekali, ke kanan dan ke kiri, ke depan dan ke belakang
seperti halnya nyawaku yang teguh bertahan
sebanyak jumlah surya harap terbenam di dasar dada
dan menerbitkannya lagi setiap pagi
Sunday, October 25, 2009
Kesepian itu memekakkan telinga

Sampai yang kau kira degup langkah itu
Jantungmu sendiri, menjadi kawan debar.
Air mata mungkin sungai yang disurutkan kemarau
Meninggalkan kerikil cerita mengering di dasarnya.
Kesepian menjelma juga di sungai itu
Dia terik yang memanggang menyilaukan
Kau yang terluka kaki dan harus terus berjalan
Jangan biarkan panas itu membakarmu
Tapi apikah matamu
Karena hujanlah kesepian itu.
24 Sept 09
Tuesday, October 20, 2009
Hatlovku
di ujung tingkap rumah angin
kupasang sebentuk giring-giring
biar berdenging jauh memberi tanda
bahwa pulangmu tiba
Monday, October 19, 2009
Mimpi Sebuah Kota
Friday, October 16, 2009
empat baris saja
Di atas bukit berdiri seorang perempuan mengunjungi kekasihnya
Seorang pria yang tinggal di gubuk reyot tiada tara
Angin bisa memporak-porandakan dengan hembusannya.
Tetapi perempuan itu memporak-porandakan hanya dengan kata.
Thursday, October 15, 2009
Hura-hura Makna

sebab seekor anjing menggigit bunga di moncongnya
dan tersenyum binar-binar mata bintang mengedipi
hati yang malam karena gelisah menyelinap
di angin-angin basah datang berbaris bersama gerimis
sewaktu lelaki itu menggunting janggutnya di depan cermin
aku juga tak mengerti
semua bentuk yang kau kira nyata
segala datang dari kata
dari kata
dari kata kita pulang kesana
karena raksasa sunyi besar yang lapar
rakus akan segala memakan kata
memakan dunia
di dalam kepala
yang menua
oleh bising, oleh asap masa lalu yang membuatmu
terbatuk-batuk selalu kala senyap mengancammu
sejak jarum-jarum itu berdetak menentukan waktu
menjadi hantu dalam jantung kalimatmu
lalu laut
dimana kau berteriak
menggulung suaramu ke dalam ombak
menjilati kaki pantai kekasih
menjadi perahu berlayar syair
mengarungi biru menebak sejauh mana
c
a
k
r
a
w
a
l
a
itu
dan pendarkan saja matahari dari dadamu
lalu terbenam sesudah angka enam berkedip
di lengan-lengan lamunan
memberi tanda
bahwa segalanya
akan baik-baik saja
Monday, October 12, 2009
bukan dari kepalaku tapi angin berisik di senin pagi itu
karena jubah malam terlalu pendek
untuk kita tarik menyelimuti igauan-igauan akhir pekan
yang terlihat hanya permen segala rasa di dalam
setoples bergambar kuda bersayap bulan
kutekan tombol karet berangka
kubicara pada suara dalam kotak lubangnya
kuletakkan kembali ke tempat semula
kuusir dengung suara yang masih di telingaku
biar pergi sejauh-jauhnya
dari seninku
untuk kita tarik menyelimuti igauan-igauan akhir pekan
yang terlihat hanya permen segala rasa di dalam
setoples bergambar kuda bersayap bulan
kutekan tombol karet berangka
kubicara pada suara dalam kotak lubangnya
kuletakkan kembali ke tempat semula
kuusir dengung suara yang masih di telingaku
biar pergi sejauh-jauhnya
dari seninku
dunia ini tetapi
pulau-pulau semu mengapung renung
secuil demi secuil
kita meremah sepanjang kering jalan berbatu
biarlah kagummu mendesau
dalam ragu tanya malu acuh
kaki mendepak debu disekujur tubuh kalimatku
dan teruhuk lah wahai kau sang ingin tahu
"permisi"
suara samar di pintu telinga
"kukembalikan mimpi yang kau bakar di lidah matahari
ia membeku tak mengabu
dan minta pulang kepadamu"
Thursday, October 8, 2009
Self Shadow

demikianlah ia pergi sembunyi
dari bayangannya sendiri
hidup seperti ribuan novel
dibacakan secara bersamaan
sedang ingatannya harus memilah di sana-sini
siapa mengapa oleh karena apa di mana
maka sering berdatanganlah wajah-wajah
ke dalam mata pejamnya yang terlalu lelah
untuk mengingat serangkai huruf membentuk nama
enyahlah,
sahutnya tak berdaya
di dalam pejamnya itu apapun bisa terjadi
mulai penyihir yang mendatangkan gajah dari atap rumah
sampai perempuan yang mengail mimpi dengan rambutnya
di sepanjang sungai harapan yang mengering mati
dan ia mencoba berlari dari gema yang dibawanya dalam
ketaksadaran hingga matanya pulang ke udara nyata
terengah-engah
tapi bayangannya terus mengikuti
Tuesday, October 6, 2009
Warna Temaram

sambil memegang lentera aku menunggu
di bawah teras kayu beratap bambu
mataku melihat jauh ke dalam kegelapan
di antara rumpun pepohonan di ujung penghabisan
setapak itu
katamu kau mengoleh-olehiku berlapis rindu
sebelumnya angin membawa wangi tubuhmu
membawa desah nafasmu
membawa lembut sentuhanmu
membawa hangat pelukanmu
adakah kau tahu
resah yang mencakar-cakarkan namamu
di dinding dadaku?
waktu menengadah kulihat langit membuka pasrah
seperti layar basah yang transparan
bernama malam
berwarna temaram
lalu kau datang merengkuhku
dan kita melebur di temaram itu
dengan lagu-lagu sendu dalam selimut rindu
Monday, October 5, 2009
sebuah sore di ruang kepala sendiri
Friday, October 2, 2009
Enggak
enggak
aku cuma
kebanyakan nonton film
ngemil buku
menenggak segalon libur
begadang mimpi
mabuk kata
Monday, September 28, 2009
dari buku catatan
: h
menatap keluar jendela melihat telaga
memerah senja
ketika seseorang
mendayung pelan sampannya
sendiri
seperti meditasi
ditemani burung-burung putih
beterbangan di atasnya
mengepak sayap kokoh
memantul pada bayang-bayang air
sedang suara piano dari rumah besar
bertirai biru itu
melembutkan jiwa
maka lelaki yang sangat mencintai istrinya,
yang adalah kekasihnya,
yang juga sahabat karibnya
mulai membacakan buku catatannya
sebuah kisah asmara
yang tak pernah padam nyalanya
yang tak pernah bisa dikalahkan usia
yang selalu menggetarkan siapa saja
yang mengalaminya
mungkin suara piano
atau warna merah senja
atau ketenangan seseorang disampannya
atau cerita yang dibacanya
membuat mata berkaca
dan dada berdebar haru
karenanya
Monday, September 14, 2009
Menyepuh Kelu

Bibirku ratusan burung,
Bercuit-cuit dihantar sore pulang ke carang pepohonan.
Kau menghadap monitor, seperti patung bersinar
Jarimu mengetik tuts-tuts, bagai orgen gereja.
Aku merajuk, melengos,
Membayangkan berteriak di rongga dadamu, bergema suaraku.
Kita telah melewati beberapa jembatan di bawah purnama,
Kadangkala aku ingin terjun saja ke sungai dibawahnya.
Menjadi ikan tak punya suara,
Meski mulut megap-megap menutup membuka.
Oktober bulan Maria, aku ingin berdoa kepada dia,
Biar dilapangkan dada menyimpan segala sesuatu rapi disana.
Ketika memejam mata wajahmu seperti bayang-bayang kabur,
Luruh pelan-pelan seperti daun jatuh di musim gugur.
Pada hari kau terbuka, aku menjadi angin bertiup lengang,
Maka bernapas lega rumah badai kita reda.
Memaafkanmu. Memahamimu.
Menyeberang jembatan ke musim berikutnya.
Dan kaki harap kita melangkah tanpa ragu,
Karena jejak lalu akan terkubur salju.
Thursday, September 10, 2009
hurts
waktu tenaga hati pikiran perhatian
tanpa diminta
tiada terkira
dan setelah semuanya
ia bicara tentang keikhlasan
hah?
hanya karena
wajahmu begitu kusut
(ia tak sempat tahu-dan apa ia pernah peduli-
sepusing apa isi kepalamu saat itu
karena yang ia tahu dan peduli ialah dirinya sendiri
dan kesempurnaan yang selalu ia harap darimu)
ditikamnya kau atas sesuatu
dari sudut pandang egoisnya tentangmu
yang sama sekali
salah !!!
ia harus bertukar tempat untuk melayani
agar mengerti
kebaikannya dinilai seujung kuku jari
dan tersakiti
betapa luka
betapa kecewa
betapa murka
betapa terhina
rasanya
Aku Suka Waktu-waktuku Sendiri
aku suka waktu-waktuku sendiri
dan kepalaku bernyanyi
dan tanganku menuliskan puisi
dan anganku terbang kesana kemari
dan imaji seperti jazz di pagi hari
aku suka waktu-waktuku sendiri
ketika senja asik memoles dirinya
ketika kamu baru saja membisikkan: i love u
ketika rindu menemukan rumah pulangnya
ketika kata-kataku duduk di bangku taman pikiran
bersanding tanpa beban
lalu kuabadikan dalam ingatan
Tuesday, September 8, 2009
An intermezzo: You are what you read!

Books-books-books... you are what you read!
Using only books you have read, answer these questions.
Try not to repeat a book title.
Describe yourself :
Alice's Adventure in Wonderland (Lewis Carroll)
How do you feel :
Einstein's Dreams (Alan Lightman)
Describe where you currently live :
Mangir (Pramoedya Ananta Toer)
If you could go anywhere, where would it be :
Life is elsewhere (Milan Kundera)
Your favorite pastime :
The Orange Girl (Jostein Gaarder)
Your favorite form of transportation :
Black Beauty (Anna Sewell)
Your best friend is :
Mother (Maxim Gorky)
You and your friends are :
Young Heroes (Saya Shiraishi)
What's the weather like :
Sepasang Sepatu Sendiri Dalam Hujan (M.Achmad, Inez D, Dedy TR)
You fear :
Ada Seseorang Di Kepalaku Yang Bukan Aku (Akmal Nasery Basal)
What is the best advice you have to give :
Mari Mendaki Gunung dari Leuser sampai Cartenz:
panduan bagi orang-orang berani (Hatib Abdul Kadir)
Thought for the day :
According to Mary Magdalene (Marianne Fredriksson)
The most precious thing in your life :
The Namesake (Jhumpa Lahiri)
How you would like to die :
One Hundred Years of Solitude (Gabriel GarcÃa Márquez)
Your soul's present condition :
The Diaries of Adam & Eve (Mark Twain)
Monday, September 7, 2009
Piluku

terlalu banyak yang kau sembunyikan
dan kau ngeri karena kuketahui
piluku
adalah melihatmu melihat hidup
tapi itu keputusanmu
itu pilihanmu
kita bertanggungjawab
atas kebahagiaan kita sendiri
aku tak ikut campur
atau menengahi atau menambahi
ironisnya
kau malah menasehati
barangkali lebih baik memang
kita saling memandang
dan sama-sama
tak peduli
Tuesday, September 1, 2009
kamar 17
dari sana aku bisa melihat terpejam terbukanya
mata cahaya
dari sedikit saja rona
batavia
waktu itu
petir menyambar-nyambar udara
seperti ada yang mekar di dalam dada
gelegar
atau kelakar angkasa
menggetarkan kota yang sekejap tak lama
akan diguyurnya
dengan hujan yang selalu membawa rahasia
juga cerita tik tik yang fantastik
dari perjalanannya dengan kereta awan
melintasi negeri kisah
lembah kesah
lautan pasrah
sampai semua basah
: dan aku melirik tik tik itu
mengaliri jendelaku
sambil melamunkanmu
sendu
Thursday, August 27, 2009
Pulang*

: ako
kau memutuskannya
setelah lama berjalan
lalu kembali pulang
di tanah rantau kau berkeluh
semua encok dan rematikmu kambuh
tapi di tanahmu
semua laramu sembuh
berdiri di podium
berpidato pada teman-teman lamamu
meski sebagian dari mereka
telah tiada
kau pulang
walau yang kau bayar
sangatlah mahal
kau pulang
biar kulihat tawa riang
terbentang di wajahmu senang
*karya HAK dengan sedikit revisi irama dariku
Saturday, August 22, 2009
Pesan
Thursday, August 20, 2009
. . . . .
bayangkanlah sebuah dinding putih memanjang
perlahan-lahan menguning lalu muncul sulur-suluran
beraneka hijau rekah kecoklatan
menggeliat dibelai angin yang datang
dari kejauhan
lalu kau berjalan disampingnya
mendengar suara-suara yang hanya
alam berkuasa membuatnya
desir,
dadamu seperti dialiri jam pasir
sampai terhenti di kolam jantung yang
menelannya dalam detak tertahan
(telapak kakimu meraba tanah berkerikil
berteriak, "berangkatlah,
berangkatlah tuan!")
kau tinggalkan jantungmu
beserta waktu yang tak lagi memburu
ini bukan kiamat
ini seperti ibadat
kau berjalan terus
memanjakan jiwa menembus lega
segala tenang yang didambanya
sampai sunyi membangunkanmu
di atas ranjang dalam kotak cermin
bening yang tak lebih sebuah ruang diri
bunyi yang kau pilih untuk pulang kepada nyata
adalah sebuah nama
dia yang berjaga diluar kelopak matamu
ketika akhirnya kau buka
(jantungmu pulang, ditempatnya semula ia berdetak
berseru "peluk tuan, peluk dia dan jangan lepaskan!")
Wednesday, August 19, 2009
Kanak-kanak Berjubah Surga

maka kuturunkan bulan
lalu memandang ke kegelapan
dan menemukan pasukan
yang berkedip pelan-pelan
di kejauhan
mereka
kanak-kanak
berjubah
surga
maka kuundang semuanya
bertandang ke kebun malam
dan merapikan bunga-bunga mimpi
yang ikut terbang pergi
ketika pasukan itu dijemput pagi
dengan
titipan doa
di saku
jubah-jubahnya
Tuesday, August 11, 2009
SD

waktu meleleh di matamu
kau candu
dua kuda terbang dari dua sudut pigura
kanan kiri
merah warna latarnya
jam-jam bertengger di ranting kering
wajah yang karam di pantai batu tak bertuan
pelukis lelaki mendelik
kumisnya seperti habis disapu badai
kepalanya bersoda
kau candu
mengabur di kuning telur
dihujani matahari
merefleksi bayang-bayang bulan
di telaga tua bibir kalimatnya
mencoba mengabadikan memori
dengan puisi
Nota Selasa
aku tak mau mimpi buruk lagi
menangis meraung dan terbangun
dalam nyawa yang berdengung
kurasa kau tahu sedalam apa takutku
karena didasarnya semua berserak namamu
aku tahu kau akan menggandeng tanganku
sepanjang jalan pulang pergi ke rumah Brahma
gulana kulebur di kaldera
dan kembali dalam segar romansa
yang kau tuangkan seterusnya
Thursday, August 6, 2009
Jiwa Bertelut
persimpangan itu gemerlap menggiurkan
sampai silau terpaku diantara kendaraan
bersilangan tarian jalan raya kehidupan
kupanggil namamu dalam doa sejumlah hujan
juga kucadangkan di setiap gumam
dan katup bibir yang diam
papan-papan penunjuk kadang menyesatkan
seringkali aku kelelahan sampai ketiduran
di bangku-bangku peristirahatan
katamu kau akan membuka pintu
kalau kami mengetuk
katamu kau menerima sesiapa
meski miskin papa
dengan itu kutak serah harap
karena kutahu kau murah hati
karena kubangunkan diri
meski lelah mengerang nyeri
dan berangkat lagi
mengambil mimpi
yang kau beri
Friday, July 31, 2009
I just like it, Just Like Heaven*
Show me how you do that trick
The one that makes me scream he said
The one that makes me laugh he said
And threw his arms around my neck
Show me how you do it
And I promise you I promise that
I'll run away with you
I'll run away with you
Spinning on that dizzy edge
I kissed his face and kissed his head
And dreamed of all the different ways I had
To make him glow
Why are you so far away? he said
Why won't you ever know that I'm in love with you
That I'm in love with you
You, soft and only
You,lost and lonely
You, strange as angels
Dancing in the deepest oceans
Twisting in the water
You're just like a dream
You're just like a dream
Daylight licked me into shape
I must have been asleep for days
And moving lips to breathe his name
I opened up my eyes
And found myself alone alone
Alone above a raging sea
That stole the only boy I loved
And drowned him deep inside of me
You, soft and only
You, lost and lonely
You, just like heaven
You, soft and only
You, lost and lonely
You, just like heaven
* a version of Katie Melua, with respect to the Cure
Wednesday, July 29, 2009
Kepulangan

: hak
sesudah menjejak aspal yang debu berornamen sampah
bau asap ceceran oli memanjangi jalan jogja
diterangi lampu-lampu memancar ke punggung belia
anak muda yang kadang membuat jiwa kita menua dengan
hanya menatapnya antara iba sekaligus iri pada remajanya
tapi seperti jazz yang berlari sendiri kesana kemari
di dalam telinga yang sabar, tak bosan-bosannya
menyatakan cinta sampai jejak aksara berlekuk di bibir kita
berkecupan, berjatuhan bunyinya di lengang kepala
kala malam meraja. rindu itu kata yang kupilin- pilin
dicahaya sore menyelinap lewat jendela ke kamar
dengan ranjang kayu, sprei bergambar domba dan selimut biru
di setiap kisutnya segala yang membara bertebaran
penuh makna yang ketika kamu datang dari negeri singa
akan mengadu gulana tak ada kamu di sana berbulan lamanya.
Thursday, July 16, 2009
Lama Tak Puisi
dan hati ingin berbagi
betapa saat ini
adalah patut disyukuri
memadahkan puji
bagi segala
karunianya
Friday, July 10, 2009
musik angin untuk ingrid
Tuesday, June 30, 2009
Deru Haru
mungkin
aku mabuk
kaki berdansa sendiri
mengambang di atas lantai
beberapa centi lebih tinggi
siapa itu yang menyalakan musik
di dalam kepalaku
angkat tangan jangan ragu
lupakan sedih yang lalu
kita musti tegar
hentakkan hati
mengusir debar
biar pergi
dan teruslah menari
Sunday, June 21, 2009
mataku terpejam
dentingnya membimbingku
mengayun kaki kenangan
ke tanah debu
makam kisah dulu
belai angin
geliat ranting
sinar lembut
bagai bicara dalam bahasanya
yang terdengar seperti
tawa bahagia yang pernah jadi bagian kita
kini jauh
tak tersentuh
seperti telapak
yang menempel pada bingkai kaca
gambar-gambar lama
seperti tak pernah percaya
bahwa kenyataan setitik
mengabur di lembar foto tua
wajah kita
Friday, June 19, 2009
ia (mungkin) tak pernah mengunjungiku di sini
kecuali aku minta
kadang-kadang
aku harus merampok perhatiannya
agar ia datang mengunjungiku di sini
tapi ia punya dunia sendiri
dan tempat-tempat lain
yang lebih menarik
untuk ia kunjungi
dan sesekali aku melihatnya
di tempat-tempat yang membuat
dadaku membara
karena ia meninggalkan pesan disana
karena aku tak tahu berapa kali
ia kesana
karena aku tak tahu
apa yang membuat disana
berbeda
karena ia tak pernah
meninggalkan pesan
di sini
di tempat segala sesuatunya
sebagian besar
justru berisi
tentang dia
;(
Thursday, June 18, 2009
Setapak
di halaman pikiran yang tumpul ini
keping hidup bertabur, dedaun kisah
mengering menyeret debu, mengabur angin
masa lalu
lagumu menyusur dinding-dinding dingin
dari dalam rumah yang seperti sedih
bagai bayi disapih
dan hujan
kepada dia semua mesti disalahkan
kemungkinan yang jatuh
jarum-jarum tajam keputusan
di lorong ingatan
wajahmu samar
di langit berwarna terbakar
o sayap awan
bawa aku terbang
bawa aku melayang
dan lagumu mengisak pelan
di dada
yang tak lagi
remaja
Thursday, June 4, 2009
Aku rindu memetik
puisi-puisi cantik
di ujung-ujung rambut ikalmu
yang selalu memanggilku
dari bening mata maya
pada hari yang merah senja
Friday, May 29, 2009
(mungkin bukan) musim
bau kopi di carrefour
memikirkan laundry dan makan malam
nonton film atau tidur
menggantung mata dalam temaram
mungkin butuh kitab suci
membenahi yang lelah dalam sepi
atau bakar saja dupa
di depan pertigaan pasar bunga
R & B atau balada
pernah mabuk bersama
di suatu senja masa yang menua
barangkali abu-abu warnanya
jari-jari menggambar sesuatu
seperti daun ganja
maksudku daun canada
maksudku gambar di benderanya
jika ini musim
mari gugurlah saja
Thursday, May 28, 2009
X
ia begitu ingin dikenali
dalam rupa raut wajah pembunuh
sedang orang-orang
berlalu lalang seperti lengking lelaki
di tepi jalan, meneriakkan lagu-lagu
tentang kemaluan
yang jahanam
dan hujan tak pernah datang
tanpa mengetuk atap rumahnya
bagai tuts piano bergerak tanpa
jari-jari menekannya
ia begitu ingin dikenali
dalam kekalahan yang kesekian kali
sedang balon-balon
beterbangan warna-warni di gedung tinggi
mengejek angan yang melambung pergi
tak terkendali
tak terhenti
tak terdapati
lalu penonton setia
menatap dengan mulut menganga
di rumah-rumah sempit berkamar dua
sambil telanjang dada
dan mengipasi ketiaknya
sambil berpikir
untuk mengasihaninya
dengan membagikan kemiskinannya
Thursday, May 21, 2009
Ssshhh

jadilah dirimu sendiri
seperti ilalang mendongak ke langit
walau mendung mengancamnya
dengan tikaman jarum-jarum hujan
dari awan bergulung-gulung
tapi disana sini begitu banyak virus iri
dan kita tak pelak terkontaminasi
siapa bilang?
kau cuma berkaca dibawah cahaya semu
semestinya bercerminlah kau di sana
di tempat-tempat di bawah telapak kakimu
di dalam kantong-kantong kota yang
penuh sampah
tapi virus iri di situ lebih jahat lagi
ya, dan berhentilah meracuni jiwa kerdilmu ini
karna obatnya cuma lapang dada
tak perlu seluas lapangan bola
seuntai senyum syukur saja
rasa lega kan menjadi raja
kalau kau tak percaya
ya jadilah boneka dunia
sana
Wednesday, May 20, 2009
gu gu ga ga
memang malam kadang tak ramah
bagai gelungan rambut terabai
di tembok sewarna tanah
dan kaki-kaki mencuat
dari dalam keranjang sampah
dibalik kaca yang ditatapi
wajah-wajah mewah
raungnya teredam
dalam temaram lampu kota jahanam
menyebarkan bayang-bayang
ke pelosok-pelosok terang yang belum hitam
mari bermain boneka
keluar dari bibir kaya
suaranya seperti biola
bagi telinga yang papa
hujan rasa
boleh saja tak sempurna
tapi bahagia
semestinya rata
buat siapa saja
buat saja siapa
Friday, May 8, 2009
Note
dinding ini luruhkan merah
seperti rangkak sepatah
makna yang rekah
untuk suaramu
kutembus barisan gerimis syahdu
membasah tanah anganku
oleh hujan rindu
bibirmu kupu-kupu waktu
ketika sayap yang kukecup itu
meninggalkan rasa senja
pada jendela mataku
yang terus menunggu
kepak pulangmu
Wednesday, May 6, 2009
Gambar Hujan*
Penumbra
maka biarlah mengabur, tatkala
dadanya jauh dari debur,
mendung itu
b e
r
ge
l
a
nt
u
ng
a
n
di langit matanya
yang lelah terjaga
pasrah
: ia sedang ingin diam
dan menjadi
bayang-bayang
Friday, May 1, 2009
Friday Blues

: hatlov
aku memutuskan untuk tidak bersedih
dan menggunakan tissue di kamar mandi
untuk hal-hal lain yang kurang dramatis
dan syukurlah adikmu begitu manis
menghiburku dengan tulisannya yang sinis
tapi aku berharap kita sempat makan pizza
nanti atau besok pagi seusai
persiapanku untuk acara hari thalassemia
bersama kanak-kanak tak berdosa
karena ide-ide liarku melembek
di hadapan kalender yang mengejek
serta waktu dinding yang asing
aku tak peduli kita ke bandara
pakai motor atau taksi
changi cuma dua jam dari sini
tapi aku perlu perpanjang paspor,
buat npwp, bayar tiket dan uang saku
juga aku enggan menyabarkan dadaku
kalau kamu pakai bumbu cemburu
karena hatiku mungkin sudah biru-biru
ditudungi rasa sendu
yang terus-terus kutahan
tiap kali tanganmu kugenggam
Tuesday, April 28, 2009
Was
It was almost dark that day.
I remember the wind touched my hair softly like unseen fingers.
My chest was heavy with uneasy air. I was alone.
Few seconds later my feet brought me
to the quiet road, approaching a small, narrow kiosk.
There I bought it. A pack of kretek.
2 3 4
I choked. Yes, it tasted terrible for my first time.
Did not know how to do it like everyone else.
I pictured the smoke went down through the tunnel
in my throat and carried all the heavy air
from the depth of my chest like an air balloon
that slowly flew out of my nostrils.
p
u
f
f
.
.
.
.
A strange relief.
Under the banyan tree. My soul was in pieces,
like tobacco inside a cigarette wrapper,
and life was a combination of bizarre sauces
that mixed with everything in it.
Awkward.
I lit it,
inhaled it
and let the smoke out.
p
u
f
f
.
.
.
.
Wish I had wings to fly through the smoke.
But I had not.
Subscribe to:
Posts (Atom)





